Kirim -> Berita / Artikel

Langganan Berita? ISI EMAIL ANDA:

Delivered by FeedBurner

Sponsored Links

Article - English

  • Job Tips: Sell Your Skills
  • Chapter 6 – More Twitter Marketing Insights
  • Chapter 5 – Common Mistakes That Twitter Users Make
  • Chapter 4 – Maximizing Your Twitter Traffic
  • Chapter 3 – Turning Twitter Followers Into Customers
  • Chapter 2 – Tools To Make Twittering Easier & Better
  • Chapter 1 – Building A List Of Twitter Followers
  • TWITTER MARKETING MADE EASY
  • Berita Sebelumnya

  • Malaysia Siap Keluarkan Travel Advisory Ke Indonesia
  • si “SEXY” Megan Fox ternyata adalah laki-laki!
  • Juara baru piala dunia akan hadir …
  • Satpol PP Pegang Senpi
  • AT Mahmud = Abdullah Totong Mahmud Meninggal dunia.
  • Adakah juara piala dunia baru?
  • Cut Tari Stres Berat..
  • WordCup 2010 : 8 Besar (Menuju Semi Final)
  • TNI Jangan Terjebak Politik Praktis
  • Lawan Brasil, Belanda Underdog
  • Lowongan Kerja

  • Lowongan Kerja CPNS Deplu 2010
  • lowongan cpns : Departemen PU ( Pekerjaan Umum )
  • lowongan CPNS 2010 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM
  • lowongan CPNS KEMENTERIAN PERDAGANGAN 2010
  • LOWONGAN KERJA CPNS 2010 DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM
  • REKRUTMEN PRAMUGARI GARUDA INDONESIA – 31 JULI 2010
  • Lowongan Kerja CPNS Depperindag Sumut
  • Wilmar Vacancy 2010
  • Lowongan Jurnalis di Kompas untuk Medan
  • IT Project Manager MIKIE HOLIDAY RESORT
  • Top 10 Artikel

  • Open your mind..
  • 5 Sukses Karakter Personal
  • Melamar dan diterima kerja sebagai OB tapi pensiun sebagai Vice President
  • Tips Membuat CV
  • Petai Cina Bantu Tingkatkan Gairah Seksual
  • Waspadai Cemilan!
  • Kenapa Maluku identik dengan timnas Belanda?
  • Resep Membuat Brownies Keju
  • Resep Membuat Muffin Cokelat
  • Cara Menggoda Suami dan Membuatnya Bertekuk Lutut padamu
  • IT HELPDESK - indowebhost.co.id


    July 20, 2010 9:50 am
    Melamar dan diterima kerja sebagai OB tapi pensiun sebagai Vice President
    by admin - Suara-Anda.com



    *Sebuah Kisah Yang Meng-Inspirasi*

     
     
     
     *Kisah Nyata Seorang OB menjadi Vice President Citibank*
     ——————————
     
     
     Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang
     yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin,
     seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi
     Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia
     karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.
     
     Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya
     sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank
     Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu
     saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya
     peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:
     
     Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari
     desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan
     harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman
     harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan
     tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta,
     pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan
     profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan
     kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.
     
     Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan
     impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia
     memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta.
     Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman
     remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin,
     berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga
     Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan
     tekad diazamkan dalam hatinya.
     
     Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah
     nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran
     kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang
     menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran
     kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari
     berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.
     
     Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan
     yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank
     (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja
     sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam
     sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor,
     wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.
     
     Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.
     Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman
     percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah
     membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.
     
     Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan
     baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore
     saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan
     dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah
     istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan
     tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai
     ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai
     akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank
     seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.
     
     Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi
     dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto
     kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang
     memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk
     mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman
     sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk
     mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan
     tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas
     mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa
     menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai
     Tukang Foto Kopi.
     
     Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi
     Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus
     menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat
     salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun
     menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun.
     ”bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff
     dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman
     menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,
     bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman
     diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek,
     Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus
     berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil
     Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut
     karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut
     Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang
     ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan
     teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan
     yang tidak pernah diduganya.
     
     Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu
     mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk
     membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak
     segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank
     mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang
     dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.
     
     Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar
     biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff,
     bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.
     Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, *”jika masuk OB, ya
     pensiun harus OB juga”* begitu rekan sesama OB menggugat.
     
     Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf
     pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi
     membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan
     oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam
     memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu
     baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir
     Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang
     mengajarinya tentang istilah bank.
     
    19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First
     National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice
     President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi
     citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin
     dijabat oleh orang Indonesia.
     
     Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman asuk
     sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA.
     Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi
     staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu
     gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi
     banyak orang .
     
     (Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership
     bank Syariah Mandiri)



    Email This Post Email This Post     Print This Post Print This Post     


    Tinggalkan Pesan Donk!

    You must be logged in to post a comment.

    Baca Juga

    • Tidak ada berita

    Klik di sini:

    Kritik dan Saran: kotak@suara-anda.com
    Informasi pemasangan iklan
    Hubungi sales@indowebhost.co.id,
    Telepon 061-77183002 | 0811613002